Sabtu, 31 Oktober 2020

#TolakUUD45palsu dokterzul@zulkifli @dokterzul: Yang mengobrak-obrik UUD'45 sehingga lahir UUD'45 palsu adalah generasi kita bukan generasi millenial

POMPEO KE GP ANSOR NU, KODE APA INI? Kehadiran pompeo keindonesia menarik perhatian banyak negara bukan hanya dalam...

Posted by Mardigu Wowiek on Thursday, October 29, 2020

Jusuf Mahdi: Membangun Watak dan Karakter Bangsa (Nation Character Building)


Ir. Jusuf Mahdi MM

Dalam perjalanan panjang sejarah bangsa, pemimpin bangsa ternyata tidak menjalankan isi amanah dan komitmen yang disuratkan dan disiratkan dalam Pembukaan (Preambule9 UUD 1945 dikarenakan pengaruh orang-orang penjilat ABS, kepentingan tertentu sehingga terjadi sikap kepemimpinan otoriter yang membuat BK mengangkat diri jadi Pemimpin Besar Revolusi, Presiden seumur hidup dan memasukkan komunis yang atheis dalam kebijakan politik negara padahal tidak sesuai dengan way of life bangsa yang dirumuskan dalam Pancasila.

Di era orde baru, pak Harto kemudian dipengaruhi oleh keluarga dan kroni-kroninya untuk menguasai secara halus semua aspek dan bidang kehidupan yang sarat kepentingan kekuasaan dan duniawi sehingga terbentuk kepemimpinan totaliter dimana posisi pentung diduduki oleh orang dekat Cendana dan KKN menjadi suatu sikap yang membumi sampai ke daerah-daerah.

Orde Reformasi dan  sampai saat ini yang ingin menghilangkan KKN dll ternyata karena tidak memiliki visionary strategical grand design maka ternyata korupsi dll makin marak, sistem ketatapemerintahan menjadi amburadul dengan diamandemennya UUD 1945, amanah dan kepercayaan rakyat tidak dihiraukan,  diganti oleh kepentingan partai dan golongan.

Demokrasi yang diterapkan di Indonesia adalah demokrasi liberal yang diwarnai berbagai kepentingan pribadi, kelompok, golongan, terutama partai yang ingin menguasai lembaga pemerintahan, baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Dari semua hal diatas ternyata sikap manusia yang berkaitan dengan watak dan karakter harus dijadikan kunci untuk kepemimpinan nasional. Bung Karno pernah menyatakan pentingnya membangun watak dan karakter bangsa (Nation Character Building) agar terbentuk SDM yang bersih, jujur dan amanah. Namun hal tersebut tidak memiliki software dan hardware yang jelas, sehingga hilang bersama terpengaruhnya BK oleh jilatan orang-orang yang ABS, terutama dari kalangan komunis.

Di era Orba dibuat bentuk Penataran P-4 dengan lembaga BP7 sebagai pusatnya. Dan ternyata dalam pelaksanaan juga banyak terjadi penyimpangan dimana banyak orang hanya mengejar dapatnya sertifikat saja  dan tidak benar-benar mengimplementasikannya isi dan nilai Pancasila secara nyata di lapangan.

Pancasila yang diinterpretasikan dalam butir-butir, hanya menjadi hafalan saja, sedangkan pengamalan di kehidupan jauh dari inti dan nilai luhur Pancasila.

Di era reformasi dengan adanya amandemen UUD 1945, dihapusnya lembaga BP7, hilangnya pelajaran PMP dari kurikulum pendidikan maka generasi muda semakin tak paham tentang isi dan nilai luhur yang sebenarnya dari Pancasila.

Dan yang paling parah adalah banyak pemimpin dan petinggi negeri yang berkoar dirinya Pancasila tetapi ternyata tingkah lakunya tidak mencerminkan sebagai seorang Pancasilais. Tidak satunya kata dengan perbuatan.

Dan hal ini benyak menimpa berbagai kalangan di masyarakat, baik kalangan spiritual, cendekiawan, akademisi, pejabat, tokoh masyarakat, organisasi,  dsb.

Keadaan diatas menyebabkan kebijakan politik kita juga amburadul, termasuk kebijakan luar negeri dimana daerah terluar  NKRI tidak bisa dikelola dengan baik, terutama di Natuna Laut China Selatan, jalur-jalur  laut pendekat, ALKI dsb.

Disinilah pentingnya pembinaan watak dan karakter bangsa agar para pemimpin, petinggi negeri, tokoh politik dan ormas memiliki kepekaan terhadap kebijakan yang diterapkan di lapangan kehidupan.

Saat ini yang diperlukan adalah bahwa  setiap orang harus  mengevaluasi diri apakah diri ini Bersih, Jujur dan Amanah, tulus ikhlas tanpa pamrih berkarya bakti nyata bagi diri, keluarga, masyarakat, sesama, dan semesta.

Banyak yang mengatakan bahwa sistem yang ada adalah salah atau tidak benar.

Sebuah sistem sudah melalui uji kelayakan, kualitas, kehandalan dll, tapi manusia yang menggunakannya tanpa dibekali hati, ilmu, kepekaan rasa dlsb akan merusakkan sistem yang ada. Al Quran, Bibel, Taurat, Zabur, Weda dll pasti baik, tapi manusia membuat kerusakan atas isi kitab-kitab tersebut. Apakah yang salah kitab suci tersebut.??  Pembukaan UUD 1945, Pancasila sudah baik, tetapi yang menafsirkan untuk kepentingan sendiri menjadikan sebuah kegiatan berpemerintahan jadi amburadul.

Sebuah sistem, apapun sistem itu  menjadi rusak karena yang menjalankan sistem tidak kenal kemuliaan diri yang harus diejawantahkan dalam laku. Sistem mungkin sudah baik, dan dapat diperbaiki sesuai trend dan kebutuhan. Tetapi manusianyalah yang menentukan. Ibarat sebuah mobil, pasti sistemnya sudah sinergis dan sempurna. Tapi jika pengemudinya ugal-ugalan, dll, sebagus apapun mobil itu pasti akan rusak.

Mari cermati kembali pepatah Barat yang sudah saya editing sbb. - Success of the organization depends on the men behind the gun....., But the most important thing depends on the morality and mentality of the men.
Jadi faktor moral dan mental manusia adalah penting dan utama dalam berkegiatan.

Mari berikan dharma bhakti kita, walaupun kecil atau sedikit dari pada tidak berbuat apapun sama sekali.

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ❤️๐ŸŒน๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐ŸŒน❤️
jmvssmatc,sby,28102020

[8:54 PM, 10/30/2020] 

Jumat, 30 Oktober 2020

dr. Andi Khomeini Takdir @dr_koko28: Pak @jokowi Yth, Indonesia sedang sangat dibutuhkan oleh Amrik & China

POMPEO KE GP ANSOR NU, KODE APA INI? Kehadiran pompeo keindonesia menarik perhatian banyak negara bukan hanya dalam...

Posted by Mardigu Wowiek on Thursday, October 29, 2020

101 Tahun ITB dan Tokoh Tionghoa yang Terlupakan

101 Tahun ITB dan Tokoh Tionghoa yang Terlupakan https://t.co/uiGUXUaTOg pic.twitter.com/qxFePwV8ZQ — KoranDNM (@Koran_DNM) June 27, 2021 ...